Share |

Mengapa setiap kali seekor ayam minum air, ia selalu mengangkat kepalanya ke atas? Maaf ini bukan teka-teki. Kita dapat saja menjawab bahwa itu kodrat ayam. Namun saya mencoba untuk memberikan jawaban lain, yaitu suatu jawaban yang mungkin bagi kita terdengar lucu bahkan aneh. Namun sebelum saya sampai ke jawaban itu, izinkan saya menceritakan sepenggal pengalaman saya bersama “dunia ayam.”
Sejak balita, saya sudah bergaul dengan ayam. Orang tuaku selalu memberiku telur ayam kampung untuk dimakan. Rasanya tentu saja enak. Rasa enak itulah yang membuat saya ingin sekali beternak ayam jika kelak sudah dewasa. Apalagi, setelah saya bertemu dengan teman-teman yang suka menyabung ayam. Biasanya, kami berjalan dari rumah ke rumah untuk memperlihatkan ayam siapa yang paling jago. Hobi menyabung ayam itu juga turut memperkuat keinginan saya untuk beternak ayam.
Ketika lulus SMA pada tahun 2005, keinginan saya untuk beternak ayam itu benar-benar terwujud. Saat itu saya memutuskan untuk tinggal satu tahun di rumah. Namun alasannya pasti bukan karena ingin beternak ayam lho? Saya memutuskan untuk jedah satu tahun karena saya merasa tidak tega meninggalkan rumah terlalu lama sebab sejak lulus SD saya harus tinggal jauh dari rumah demi melanjutkan studi ke sekolah menengah.
Saya mencoba mengisi waktu satu tahun itu dengan beternak ayam. Memang, jumlahnya tidak seberapa. Bagi saya saat itu, jumlah sedikit bukan soal sebab yang terpenting adalah bahwa bakat saya tersalurkan. Setelah berada di pendidikan tinggi, saya kembali mendapat kesempatan untuk praktik kerja atau semacam “PKL” yang kami sebut “WE” (Work Experience). Program ini berlangsung selama satu bulan. Dalam program itu, saya berkesempatan untuk menjadi pekerja di salah satu peternakan ayam di pedalaman Bekasi, yakni di daerah Saddang, Kecamatan Setu, Bekasi – Jawa Barat. Selama satu bulan itu saya tinggal di Mes khusus karyawan yang bekerja di kandang ayam. Orang-orang sekitar selalu memanggil kami “bocah kandang. Banyak pengalaman menarik selama di sana, mulai nonton organ tunggal, nonton layar tancap, nontong topeng monyet, sampai apel (kunjungan) ke rumah pacar teman. Semua ini kulakukan bersama teman-teman yang disebut bocah kandang itu. Beberapa orang yang pernah datang ke kandang ayam tempat saya bekerja selama satu bulan itu bertanya sinis “Kok bisa ya, orang yang bukan basic peternakan mau bekerja di kandang?” Ya, menurut saya wajar saja kalau mereka bertanya demikian. Namun satu hal yang pasti bahwa saya ke sana membawa tujuan tertentu yakni bahwa saya ingin mencari pengalaman kerja dan belajar membangun relasi dengan sebanyak mungkin orang, apa pun latar belakang mereka. Saya merasa bahwa tujuan itu berhasil.
Kecintaan saya pada usaha peternakan ayam tidak berhenti di situ. Sejak tiba di Makassar tahun yang lalu (2011), saya mulai melirik kandang ayam yang tidak terpakai di dekat kolam ikan – belakang wisma. Saya mengajak teman-teman untuk memperbaiki kandang itu. Singkat cerita, saya berhasil memelihara sekitar dua puluhan ekor ayam. Namun pengalaman tidak enak segera datang sesudahnya  karena ayam-ayamku yang baru bertambah jumlahnya tiba-tiba diserang penyakit. Padahal, hampir setiap sore saya menyemprot obat sekeliling kandang. Hati siapa yang tidak kecewa? Saat itu saya memang kecewa namun tidak bertahan lama.
Sejak 14 Juni sampai 14 Juli 2012 saya menjalani program live-in  di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan di rumah keluarga Muslim. Selama satu bulan itu saya kembali bersentuhan dengan usaha peternakan ayam. Ternyata keluarga yang saya tempati mempunyai usaha peternakan ayam pedaging. Oleh karenanya, saya mencoba kembali mengembangkan bakat saya di sini. Hanya saja bibit ayam baru masuk saat satu minggu sebelum saya meninggalkan tempat itu. Namun demikian, saya merasakan waktu seminggu itu cukup menantang karena saya harus merasakan tidur di kandang ayam. Saya dan seorang karyawan tetap di sana benar-benar standby di kandang selama dua puluh empat jam karena takut ayamnya diterkam kucing. Pengalaman tinggal di kandang ayam beberapa hari tentu menjadi pengalaman yang luar biasa bagi mereka yang belum pernah merasakannya sebelumnya. Demikian halnya bagi saya saat itu. Ada sedikit rasa penolakan dalam diri. Tetapi lagi-lagi karena keingintahuan saya terhadap cara beternak ayam dan kerinduan saya untuk bergaul dengan banyak teman dari berbagai latar belakang membuat kegalauan saya berkurang.
Berangkat dari semua pengalaman bersama ayam, saya akhirnya harus memberi jawaban atas pertanyaan tadi: “Mengapa setiap kali seekor ayam minum air, ia selalu mengangkat kepalanya ke atas?” Bagi orang beriman, “dunia atas” pastilah menunjuk pada Tuhan. Kita selalu berdoa ke atas karena kita yakini bahwa Tuhan ada di atas sana. Dengan cara berpikir seperti itu, maka secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh ayam sebenarnya sama: mereka ingin memandang si pemberi air minum itu. Aneh kan? Ya, memang aneh. Tapi yang tidak aneh adalah bahwa kita bisa belajar dari cara berpikir seperti itu. Bagi saya, nilai yang bisa dipetik dari kebiasaan ayam ini adalah bahwa kita – yang tentu saja jauh lebih cerdas dari seekor ayam – berusaha mensyukuri setiap “berkat” yang kita terima. Seperti seekor ayam, kita pun menengadah ke atas dan berdoa “Terima kasih Tuhan atas rezeki yang sudah kami terima hari ini.” Semoga pembelajaran kecil ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Salam sehati-sejiwa.

4 komentar:

  1. Tulisan ini sangat berkualitas mas Bro. Ternyata ada makna mendalam dari balik gerakan "mengangakat kepala" yang dilakukan ayam. Syukur dan pujian patut kita naikkan kepada Tuhan utk setiap pengalaman yang kita alami. Thanks utk sharingnya..

    BalasHapus
  2. selain mengumandangkan syukur n pujian kepada pencipta-Nya, saya kira posisi ayam sprti itu kalau dilihat dari kacamata "tatakrama" merupakan sebuah ungkapan kesopanan, respek, penghargaan dan solidarity (melihat apakah tetangganya udah bisa menikmati segumpal berkat sebagaimana yg dia nikmati) .....hahaha saya kira foto ini diambil saat periode saya di sana ya....

    Kanisius Jenali, Manila - Philippines.

    BalasHapus
  3. Krna sgla yg kita nikmati dlm hidup ini datang dari Sang Pengatur Kehidupan, kita patut menengadah ke atas pd Dia pembri kenikmatan sambil mhon penyertaanNya..

    Fransiskus Jon, Manggarai - Flores.

    BalasHapus
  4. Pesanx cukup bermakna.... saya kira makna hidup kita akan semakin berarti saat kita berani melihat, merenung, merasakan n memaknai peristiwa2 hidup yg sederhana seperti yg diperlihatkan oleh gerakan ayam tadi. Ini yg Yesus minta dari kita sbg pengikut-Nya untuk membaca n memahami dgn baik semua tanda2 zaman, tanda2 hidup [mempunyai hati untuk bersyukur atas semua berkat yg kita trima dlm hidup]. Warna spiritualitas yg sy temukan di sana adalah "BERSYUKUR". Terima kasih.

    BalasHapus

Pembaca dapat menuliskan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar akan dihapus jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

KOMENTAR ANDA

HUBUNGI ADMIN

Telepon Seluler: 09275575210
PIN BBM: 7F2CA786
Skype: jufri.kano
Twitter: jufri_kano
Yahoo! Messenger: jufri_kano@ymail.com
Facebook: http://facebook.com/jufri.kano

PENGUNJUNG

seocips

TOPIK MINGGU INI

TOPIK PILIHAN