Share |
Kata-kata kunci: Metafisika, ontologi, etika, yang lain, epifani wajah, totalitas, asimetris, ketelanjangan wajah, eksterioritas, the Other, yang tak berhingga, person.

  1. Riwayat Hidup
Emmanuel LĂ©vinas adalah seorang filsuf Prancis kontemporer. Ia lahir di Kaunas (Kovno), Lithuania pada 12 Januari 1906. Ia merupakan keturunan Yahudi. Orang tuanya cenderung mendidiknya dalam bahasa dan sastra Rusia daripada bahasa Lithuania sehingga dia mempelajari bahasa Rusia dan bahasa Ibrani. Pada tahun 1923, ia berangkat ke Prancis untuk studi filsafat, semula di Strassbourgh dan sejak tahun 1930 di Paris (pada tahun yang sama ia memperoleh kewarganegaraan Prancis). Dia terkenal sebagai filsuf etika dengan sebutan Etika Tak Berhingga. Teori etikanya diperoleh dari membaca karya-karya Dostoyevsky, Tolstoy, Pushkin, dan Gogol. Pada tahun 1928-1929 ia mengikuti kuliah Husserl di Freiburg dan membaca karya Heidegger, Ada dan Waktu. Selain dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger, pengaruh Dostoyevsky juga memperkuat pandangan etikanya. Ia meninggal dunia pada 25 Desember 1995.

  1. Pikiran-pikiran Pokok
Emanuel Levinas dikenal sebagai orang pertama yang menandai pergeseran penting dari ontologi ke etika, dari sejarah yang berpusatkan pada ego ke sejarah yang mengawali lahirnya the other atau “yang lain”.[1] Pokok pikirannya dicirikan oleh dua hal: pertama, kritik terhadap “egologia” yang didasarkan pada “cogito” Descartes. Kedua, penegasan terhadap “yang lain” sebagai yang paling utama atau sebagai kebenaran paling fundamental manusia.
Dengan memasuki ranah etika dan menegaskan pentingnya etika di atas metafisika atau ontologi, Levinas mengafirmasi sekali lagi “berakhirnya” filsafat sebagai epistemologi atau ontologi. Dalam karya besarnya, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, ia menunjukkan bahwa ada tiga hal penting yang menandai hubungan antara ego dan “yang lain,” yaitu totalitas, yang tak berhingga, dan eksterioritas. Menurutnya, seluruh pemikiran Barat selama ini cenderung membangun suatu keseluruhan yang menjadikan ego sebagai pusatnya.[2] Di sini ia menyebut satu contoh dari kecenderungan itu, yaitu ungkapan terkenal dari Descartes: cogito ergosum, “aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan ini, demikian Levinas, menunjukkan bagaimana “aku” didaulat menjadi pusat bagi realitas ontologis. “Egologia” semacam ini terus berkembang dalam sejarah metafisika.
Menurut Levinas, pada tataran pengetahuan antropologi yang dikuasai oleh ego terungkap tendensi untuk mereduksi realitas pada rasio eksplisit. Dengan mengetahui realitas berarti mereduksi segala hal dalam kesatuan yang sama dari sistem rasional yang dipikirkan oleh ego. Segala hal yang di luar dan berbeda harus direduksi ke dalam realitas rasional. Tujuan yang mau dicapai dengan interpretasi manusia demikian, adalah “aku” yang memperluas diri sedemikian rupa sehingga mampu dengan satu pandang atau dengan satu formula memahami realitas dengan segala perbedaannya, dengan mereduksi semua pada totalitas dan mengeliminir setiap perbedaan. Egologia tersebut menempatkan totalitas pada pusat, yang setiap kali mencabut aspek-aspek lain dan berakhir dengan mengorbankan “yang tunggal” pada sistem.
Namun demikian, menurut Levinas, totalitas itu berhasil didobrak oleh yang tak berhingga. Dengan istilah ini dia memaksudkan sebuah realitas yang tidak dapat direduksi ke dalam diri saya (sebagai ego) dan pengetahuan saya. Yang tak berhingga itu adalah “yang lain,” the other, yang berbeda dari saya dan yang bukan saya. Akibatnya, totalitas yang saya bangun dengan sendirinya runtuh ketika saya berjumpa dengan orang lain. Inilah yang dimaksud oleh Levinas dengan istilah eksterioritas, yakni bahwa ada yang beda di luar saya, yang bukan bagian dari interioritas diri saya. Yang tak berhingga itu mengajak saya untuk keluar dari diri saya dan menyapanya. Kalau demikian, apa yang dimaksud dengan “yang tak berhingga”? Levinas menjawab bahwa “yang tak berhinggaitu adalah sesama manusia yang tadinya berperan sebagai orang asing bagi individu. Di sinilah totalitas individu menjadi hancur karena setiap individu harus berhubungan dengan sesamanya manusia. Untuk merumuskan pengalaman ini, Levinas menggunakan istilah: wajah.
Dengan demikian, kita memasuki gagasan sentral kedua dari pokok pikiran Levinas, yaitu pengutamaan “yang lain,” yang dilukiskan dengan “epifani wajah”. Menurutnya, yang lain mengungkapkan diri dan memanifestasikan diri. Kehadirannya sama sekali berbeda dari benda-benda objektif, yang kehilangan rahasianya manakala disinari dengan akal budi. “Yang lain” bukanlah yang saya formulasikan dengan teori saya. Ia menembus eksistensi saya, menghadirkan dirinya, menampak dengan sinarnya sendiri, dan menghadirkan diri dengan kepastian tak terbantah. Ia hadir sebagai benar-benar “yang lain,” yaitu sebagai pengada yang sama sekali tidak ditentukan oleh penalaran saya dan karenanya juga tidak terselipkan dalam totalitas rasional. Dengan kata lain, “epifani wajah” adalah kehadiran langsung dari “yang lain” sebagai “yang lain,” yang menentang setiap bentuk totalitas.
Apa yang dimaksud oleh Levinas dengan kata “wajah” di sini bukanlah raut muka, tetapi penanda bahwa ada orang lain yang berbeda dari kita. Ketika saya berjumpa dengan wajah, sang wajah menjaga otonominya dari saya. Dengan demikian, tatapan saya akan wajah menjadikan orang lain di hadapan saya benar-benar unik dan saya tidak dapat mereduksinya.[3] Orang lain bukanlah bagian dari totalitas yang saya bangun. Ia memiliki eksterioritasnya sendiri yang terlepas dari jangkauan saya. Dia sama sekali lain. Jadi, perjumpaan dengan wajah mengundang kita untuk menyapa orang lain.
Menurut Levinas, pada saat orang lain muncul sebagai wajah, kita tidak berkuasa apapun terhadapnya. Kita tidak dapat menguasainya. Kita tidak dapat menginteraksinya ke dalam suatu kerangka yang lebih luas, menganalisisnya sebagai anggota salah satu jenis makhluk, atau bahkan menguncinya dalam pelbagai kategori yang kita pakai untuk memilah-milah sesuatu ke dalam unsur-unsurnya. Ia adalah ia, lain dari saya, lain dari kategori dan gaya saya. Ia ada di depan saya, entah saya senang atau tidak. Dalam wajah itu, orang lain menghadap saya secara “telanjang” dan “luhur” sekaligus. Telanjang, karena ia adalah ia, tanpa sesuatu apapun yang menjadi pengantara atau tameng. Luhur, karena ia tidak dapat diabaikan, dikesampingkan, atau dianggap sepi. Dengan demikian, undangan untuk berlaku etis terus menggugah saya untuk menyadari kewajiban saya kepada orang lain, dan kewajiban itu bersifat asimetris. Asimetris yang dimaksud adalah bahwa apa yang saya berikan kepada orang lain tidak boleh saya minta balasannya. Mengapa? Karena ketelanjangan wajah adalah juga kehadiran yang “membutuhkan” di dunia ini : orang miskin, para janda, anak-anak, setiap manusia yang menghendaki menjadi “seseorang” di hadapan yang lain, dan mereka yang ingin diperlakukan sebagai “yang lain”.
Levinas menjelaskan bahwa segala usaha untuk memahami dan mengeksplisitasi keunikan manusia merupakan pemerkosaan terhadap keunikan manusia sebagai person. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir di depanku dengan “wajah telanjang”. Saya harus takluk kepadanya dengan penuh hormat. Wajah yang telanjang itu mengatakan kepadaku, “Jangan membunuh saya, terimalah saya!” Saya harus taat kepada keunikan sesama.[4] Terhadap imbauan itu saya tidak berdaya. Tidak mungkin saya membunuh wajah itu, meskipun saya ingin melakukannya. Kekuatan yang tidak tertaklukan wajah itu justru terletak pada ketakberdayaannya. Ia menghadang maksud saya untuk membunuhnya bukan dengan kekuatan fisik, melainkan justru dengan tiadanya kekuatan apapun yang dimilikinya. Perlawanan wajah terhadap maksud saya untuk membunuhnya bersifat murni etis. Di sinilah Levinas sangat menentang metafisika karena menurutnya metafisika merupakan eksplisitasi menuju “paham” dalam sudut pandang yang paling umum (ada).
Dalam tradisi filsafat, kita mengetahui bahwa ontologi adalah metafisika atau “filsafat pertama” (Aristoteles). Akan tetapi, Levinas justru menolak bahwa filsafat pertama adalah ontologi. Menurutnya, filsafat pertama adalah etika.[5] Ia berpendapat bahwa metafisika ontologis mereduksikan orang lain pada kesamaan kemengadaan sehingga menghilangkan kelainannya. Oleh karena itu, menurutnya, metafisika harus bertolak dari kenyataan orang lain, dari kelainannya sebagai fakta yang tidak dapat dicaplok dalam filsafat penyamaan. Dengan cara itu, maka etika, dan bukan ontologi, adalah filsafat pertama. Jadi, bagi Levinas, metafisika yang konsekuen adalah metafisika mengada yang tidak mengorbankan keunikan. Menurut metafisika mengada, keunikan bersifat analog dan bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat mengada. Metafisika mengada tidak mengorbankan keunikan, melainkan bersifat dinamis untuk menuju kepada yang sesuai dengan tingkat mengada.

Daftar Pustaka
Al-Fayyadl, Muhammad 2005, Derrida, Yogyakarta: LKiS.
Magnis-Suseno, Franz 2000, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius.
Sastrapratedja, M. 2010, Filsafat Manusia I, Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.
Snijders, Adelbert  2006, Manusia dan Kebenaran, Yogyakarta: Kanisius.
----------, 2009, Seluas Segala Kenyataan, Yogyakarta: Kanisius 


[1] Perlu diketahui bahwa yang lain” atau the other adalah istilah khas filsafat Emmanuel Levinas. Menurutnya, “yang lain” ialah sesuatu yang tidak mungkin dipahami dari sudut kesadaran atau ditangkap oleh semua pendekatan kognitif. Dengan kata lain, “yang lain” sama sekali tidak ditentukan oleh penalaran saya dan karenanya tidak terselipkan dalam totalitas rasional. Struktur tersebut membuat saya menjadi unik dan tidak tergantikan.
[2] Bdk. Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, Yogyakarta, LkiS, 2005. Hlm. 145-153.
[3] Menurut Levinas, penampakan wajah tidak mungkin menempatkan saya sebagai subjek. Wajah mengundang saya keluar dari subjektivitas saya dan masuk menyelami dimensinya yang tak berhingga.
[4] Adelbert  Snijders, Manusia dan Kebenaran, Yogyakarta, Kanisius, 2006. Hlm. 249.
[5] Bdk. Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, Yogyakarta, Kanisius, 2000. Hlm. 93.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pembaca dapat menuliskan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar akan dihapus jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

KOMENTAR ANDA

HUBUNGI ADMIN

Telepon Seluler: 09275575210
PIN BBM: 7F2CA786
Skype: jufri.kano
Twitter: jufri_kano
Yahoo! Messenger: jufri_kano@ymail.com
Facebook: http://facebook.com/jufri.kano

PENGUNJUNG

seocips

TOPIK MINGGU INI

TOPIK PILIHAN