Share |

Pengantar
Dalam perjalanan sejarah umat manusia, tema yang sering diangkat ke permukaan sebagai bahan diskusi mereka adalah perbincangan tentang Tuhan. Perbincangan ini tidak pernah sepi dan hening dari kehidupan manusia. Ada banyak interpretasi tentang Tuhan, semuanya bertujuan agar manusia sampai pada pemahaman yang akurat tentang Yang Absolut itu sendiri. Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan gagasan yang disajikan oleh Baruch de Spinoza (1632-1677 M) berkaitan dengan judul di atas. Ia telah berjuang dan memiliki cara tersendiri untuk menginterpretasikan siapakah Tuhan itu baginya. Dengan gaya berpikir yang cemerlang, ia mencoba menguraikan hasil interpretasinya. Apakah ada pemahaman lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu? Spinoza mencoba memecahkan persoalan ini. Ia melihat bahwa realitas Yang Absolut itu adalah substansi. 
 
1. Definisi substansi
Spinoza mendefinisikan substansi sebagai sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri dan dipikirkan oleh dirinya sendiri. Jadi, substansi adalah apa yang berdiri sendiri dan ada oleh dirinya sendiri.[1]
 
Dengan definisi di atas, Spinoza memahami substansi sebagai suatu kenyataan yang mandiri tetapi juga terisolasi dari kenyataan-kenyataan lain. Substansi tidak berelasi dengan sesuatu yang lain dan tidak dihasilkan atau tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Hal yang khusus dalam substansi adalah kemandiriannya, tidak tergantung pada yang lain (subsistensi). Substansi mempunyai arti dan nilainya sendiri tanpa tergantung pada yang lain. Substansi dapat didefenisikan tanpa perlu mengacu pada yang lain. Dengan kata lain, substansi itu adalah suatu realitas yang tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk membentuk dirinya menjadi ada.[2]
 
2. Kritik Spinoza atas pandangan Descartes tentang substansi
Gagasan-gagasan Spinoza banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes.[3] Akan tetapi, berbeda dengan rasionalisme Descartes, rasionalisme Spinoza jauh lebih luas. Akibatnya, pengaruh Descartes tidak sepenuhnya diterima oleh Spinoza. Menurut Spinoza, Descartes tidak memiliki suatu komitmen yang akurat untuk mendefinisikan substansi itu sendiri sebab dalam kenyataannya Descartes masih menerima adanya substansi yang lain. Ia menolak ajaran Descartes bahwa realitas terdiri atas tiga substansi (Allah, jiwa, dan materi). Pandangan Descartes tidak koheren dengan definisi substansi. Sebagai gantinya, Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi. Substansi yang satu itu adalah Allah atau alam, yang esa, tiada batasnya secara mutlak. Satu substansi itu meliputi baik dunia maupun manusia. Substansi itu bersifat individual sekaligus menjadi hakikat segala sesuatu yang tampaknya individual. 
 
3. Implikasinya
Implikasinya jelas, Spinoza menolak Allah yang bersifat personal atau Allah yang biasa disapa oleh manusia dengan kata “Engkau” atau “Bapa” seperti yang diyakini dalam agama monoteis ia menolaknya sebab hal tersebut adalah sifat atau ciri untuk manusia, padahal manusia sendiri bersifat fana, relatif, dan terbatas sebagai kebalikan dari sifat Allah. 
 
4. Adanya ‘atribut’ dan ‘modus’
Kalau realitas itu tunggal, bagaimanakah lalu Spinoza menjelaskan adanya kemajemukan yang kita alami sehari-hari? 
 
Dalam hubungannya dengan konsep substansi itu, Spinoza juga merumuskan konsep ‘atribut’ dan ‘modi’. Menurut Spinoza, di dalam substansi itu terkandung ‘atribut-atribut’ yang olehnya disebut sebagai keluasan (ekstensio) dan pemikiran (cogitatio). Baginya, ‘atribut-atribut’ merupakan karakteristik yang membentuk esensi substansi. Jumlahnya tidak terbatas, kendati keduanya yang kita kenal adalah pemikiran dan keluasan. Sesuatu yang disebut ‘atribut’ adalah sifat asasi. Setiap substansi mempunya sifat asasinya sendiri yang menentukan hakekat substansi itu. Sifat asasi ini mutlak perlu dan tidak dapat ditiadakan. Baginya, keluasan dan pemikiran merupakan ‘atribut-atribut’ dari satu substansi. Dalam hal ini, Spinoza melihat Allah sebagai keluasan (Deus est res extensa) dan Allah sebagai pemikiran (Deus est res cogitans).[4]
 
Spinoza memperketat kerangka yang dibuat oleh Descartes sedemikian rupa sehingga pemikiran dan keluasan merupakan ‘atribut-atribut’ dari apa yang disebut substansi, sesuatu yang sebenarnya adalah Allah. Dengan demikian, karena keluasan dan pikiran hanyalah ‘atribut,’ maka dunia hanyalah satu substansi dengan kedua ‘atribut’ itu. Kita bisa melihat dunia dari ‘atribut’ keluasan dan kita menyebutnya ‘Alam’. Melalui ‘atribut-atribut’ pemikiran dan keluasan, maka substansi yang tunggal Allah atau Alam mengembangkan dirinya dan pengembangan ini menghasilkan bentuk-bentuk berhingga sebagai modi
 
Dengan ‘modi’ dimaksudkan berbagai bentuk atau cara keberadaan dari substansi (dari kata modus, bentuk tunggal kata benda Latin yang berarti ‘cara’). Dalam filsafat Spinoza, ‘modi’ menyatakan pluralitas benda-benda yang tiada akhir dan sifat-sifatnya yang sementara, di mana substansi material yang tunggal, abadi, dan tak berhingga dinyatakan. Dengan demikian, semua realitas dan gejala yang bisa kita temukan di alam, baik yang bersifat jasmaniah (manusia, flora, dan fauna) maupun yang bersifat rohaniah (pemikiran, perasaan, dan kehendak) merupakan ‘modi’ dari Allah yang merupakan substansi tunggal. Dengan kata lain, secara prinsip alam dan segala isinya adalah identik dengan Allah yang merupakan substansi yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Itulah sebabnya mengapa pendirian Spinoza ini disebut panteisme: Allah disamakan dengan segala sesuatu yang ada. 
 
Berdasarkan pemahaman di atas, Spinoza melihat bahwa karena Allah adalah satu-satunya substansi, maka segala sesuatu yang ada di bumi ini berasal dari Allah. Allahlah yang menjadi penyebab adanya segala sesuatu (Natura naturans) dan segala sesuatu hanya dapat dimengerti sebagai keluar dari Allah (Natura naturata). Substansi yang satu itu berada di dalam segala sesuatu yang beraneka ragam ini. Segala yang beraneka ragam mewujudkan cara berada substansi yang satu tadi. Dengan kata lain, dalam pandangan Spinoza Allah atau Alam merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu kesatuan. Menurutnya, seluruh kenyataan merupakan kesatuan. Kesatuan ini sebagai satu-satunya substansi sama dengan Allah atau Alam. 
 
5. Pemecahan dualisme jiwa dan badan
Dengan pandangan monistis[5] di atas, Spinoza berusaha mengatasi dualisme Cartesian. Dia berpendapat bahwa jiwa dan badan adalah kenyataan tunggal yang sama, yang bisa dipahami dalam ‘atribut’ pikiran atau keluasan. Menurutnya, jiwa atau pemikiran dan badan atau keluasan merupakan dua ‘atribut’ illahi, yakni dua dari sekian banyak sifat Allah atau Alam yang bisa ditangkap oleh manusia. Dua ‘atribut’ ini membentuk manusia dan menjadikannya modus atau cara berada Allah atau Alam. 
 
6. Tanggapan kritis
Konsep substansi yang disodorkan oleh Spinoza merupakan sumbangan pemikiran yang sangat penting dalam pencarian manusia akan Allah sang realitas absolut. Namun demikian, saya melihat bahwa dalam uraiannya mengenai substansi sebagai realitas Yang Absolut tersebut, Spinoza tidak konsisten dengan gagasan yang dia ajukan karena dia menggabungkan Allah dan Alam menjadi satu realitas yang memiliki satu kesatuan. Dengan penggabungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dia mereduksi individualitas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, Spinoza menolak adanya personalitas. 
 
7. Kesimpulan
Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi. Substansi yang satu itu adalah Allah atau Alam, yang esa, tiada batasnya secara mutlak. Hal ini dikatakannya karena bagi dia substansi harus dimengerti sebagai ‘apa yang ada dalam dirinya sendiri dan dipikirkan oleh dirinya sendiri, artinya sesuatu yang konsepnya tidak membutuhkan suatu konsep lain untuk membentuknya’. Jadi, substansi itu ada oleh dirinya sendiri sebab dari konsepnya pun substansi itu tidak tegantung pada sesuatu yang lain. Oleh sebab itu, hakekat dari substansi itu mencakup eksistensinya: ia adalah ‘causa sui’ atau sebab bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, substansi itu bersifat illahi dan hanya mungkin ada satu substansi yaitu Allah sebab Allah itu tidak terbatas.
Bagi Spinoza, segala sesuatu yang ada berasal dari Allah. Jadi, secara prinsip alam dengan segala isinya adalah identik dengan Allah. Dengan kata lain, Allah dan Alam merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu substansi. Sementara itu, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada yang tampaknya banyak bagi kita tidak dapat tidak merupakan cara-cara berada saja. Mereka itu adalah cara-cara berada dari substansi yang tunggal tadi. Allah itu tidak terbatas dan hal-hal yang terbatas adalah modifikasi-modifikasi riil-Nya. 
 
Daftar pustaka
Bagus, Lorens 1996, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Bertens, K 1975, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius.
---------- 2000, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius.
Budi Hardiman, F 2004, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hadiwijono, Harun 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius.
Hamersma, Harry 1984, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Leahy, Louis 1993, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius.
Petrus L. Tjahjadi, Simon 2004, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius.

[1] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, (Jakarta: Gramedia, 2004), hlm. 47.
[2] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 27.
[3] Istilah rasionalisme diambil dari kata dasar “ratio” (Latin) yang berarti akal budi. Rasionalisme berarti suatu pandangan filosofis yang menekankan penalaran atau refleksi sebagai dasar untuk mencari kebenaran. RenĂ© Descartes adalah tokoh pertama yang meletakkan dasar teori rasional bagi wacana filsafat modern, terutama pada kesadaran akal budi (akal/rasio) sebagai upaya pencapaian kebenaran (antroposentris). Menurutnya, rasio menjadi sumber dan pangkal segala pengertian, sedangkan budi memegang pimpinan dalam segala pengertian. Berpangkal pada rasio, aliran ini berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran tokoh-tokoh filsafat sesudahnya, salah satu di antaranya adalah Spinoza.
[4] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 213.
[5] Arti dari monisme lebih luas dari panteisme. Dalam arti metafisiknya, monisme adalah ajaran yang menyatakan kesatuan radikal dari segala yang ada.


3 komentar:

  1. saya pencinta filsafat, yang dibicarakan pasti tak jauh dari alam dan Tuhan, Hanya sebagian orang yang tahu tentang Tuhan dan Ajarannya, Tapi Tak mengerti, dan sebagiannya lagi ingin mengupas bahasa itu mendalam, tapi bagi seseorang yang pemikirannya sangat sederhana selalu berkata Alam? ciptaan. Tuhan? Penguasa, jadi tinggal kita pecahkan dan kita bahas apa arti dari 2 kata tersebut secara harafiah, trims blognya bagus

    BalasHapus
  2. Mat mlm bro, makasih atas kunjungannya. Sorry, baru bisa dibalas komentarnya.

    BalasHapus
  3. Mantabs gan infonya, saya gak bisa ngomong apa-apa lagi nih ^_^

    BalasHapus

Pembaca dapat menuliskan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar akan dihapus jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

KOMENTAR ANDA

HUBUNGI ADMIN

Telepon Seluler: 09275575210
PIN BBM: 7F2CA786
Skype: jufri.kano
Twitter: jufri_kano
Yahoo! Messenger: jufri_kano@ymail.com
Facebook: http://facebook.com/jufri.kano

PENGUNJUNG

seocips

TOPIK MINGGU INI

TOPIK PILIHAN