Pendahuluan   
            Max Weber adalah tokoh kenamaan yang telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ilmu Sosiologi. Nilai sumbangannya terletak dalam apa yang dikerjakannya yakni bagaimana ia meletakkan batu dasar bagi cara berpikir ilmiah untuk memahami realitas sosiologis peradaban manusia. Atas dasar pertimbangan itu, maka ia layak menyandang julukan sebagai Bapak Sosiologi. Sebagai seorang ilmuwan sosiologi dan ekonomi politik, ia telah berhasil menulis suatu tesis[1] yang amat terkenal tentang apa yang disebutnya ”Etika Protestan” dan hubungannya dengan ”Semangat Kapitalisme.” Sejak ia memperkenalkan tesis tersebut pada tahun 1905, sejumlah sarjana ilmu-ilmu sosial dan agama menghabiskan waktu mereka untuk mempermasalahkan teori itu. Mereka menuduh Weber bagi timbulnya pendapat bahwa Protestantisme  adalah penyebab kapitalisme. Akibatnya, sebagian dari mereka dengan serta-merta mencela Weber.[2]
            Terlepas dari segala tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang terhadap Weber, pantaslah dicatat di sini bahwa Weber, melalui tesis yang dikemukakannya tersebut sebenarnya ingin mencoba mengadakan ‘transformasi struktural’ sekaligus ‘lintas struktural’ antara dua bidang, agama dan ekonomi. Pertanyaan yang coba dicari jawabannya oleh Weber sebenarnya sederhana dan fundamental. Pertanyaan itu mengenai kondisi-kondisi psikologis yang telah memungkinkan adanya perkembangan peradaban kapitalis. Weber berkeinginan keras untuk mempertanyakan—atau mungkin lebih dari itu, mencari—hubungan antara penghayatan agama dengan pola-pola perilaku. Dengan lain perkataan, melalui tesis-tesis yang diajukannya, Weber ingin lebih jauh mempersoalkan tentang ‘motivasi dan dorongan-dorongan psikologis’ dari setiap perilaku, termasuk ekonomi.
                                                                                                                                                   
  1. Afiliasi Agama dan Stratifikasi Sosial
Sepintas memperhatikan data statistik beberapa negara Eropa, demikian Weber, yang komposisi pemeluk agamanya beraneka ragam seringkali menimbulkan pandangan yang mencengangkan. Situasi tersebut dalam beberapa waktu telah menarik perhatian kalangan Gereja Katolik Roma dan mengundang mereka ke dalam pembahasan-pembahasan yang mendalam dan panjang, baik dalam media cetak maupun dalam diskusi-diskusi ruangan. Letak persoalannya adalah adanya suatu kenyataan di mana pimpinan-pimpinan perusahaan dan pemilik kapital, para pekerja ahli, bahkan para personel terlatih baik dibidang teknik maupun komersial dalam perusahaan-perusahaan modern, sebagian besar adalah orang-orang Protestan.[3]
Kenyataan seperti yang disebutkan di atas tidak hanya terjadi pada kasus-kasus di mana perbedaan agama berhubungan erat dengan suatu kewarganegaraan, tetapi juga dalam konteks perkembangan budaya, seperti yang terjadi di Jerman Timur, yakni antara orang-orang Jerman dan Polandia.[4] Hal yang sama juga diperlihatkan oleh kalangan tokoh-tokoh yang berafiliasi kepada agama. Kebanyakan dari mereka adalah para pemilik modal yang memiliki pengaruh, memiliki otoritas yang kuat dan keleluasaan untuk mengubah distribusi masyarakat sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan struktur pekerjaannya.
Namun demikian, memang benar diakui bahwa partisipasi relatif yang lebih besar dari orang-orang Protestan dalam hal kepemilikan modal, manajemen, dan dalam tingkat pekerjaan karyawan yang lebih tinggi pada industri-industri modern dan perusahaan-perusahaan komersial yang besar mungkin sebagian bisa dijelaskan dalam aspek kondisi-kondisi historis, yakni satu aspek yang menarik perhatian kita ke masa silam dan pada saat ketika aliansi agama bukanlah sebab dari kondisi-kondisi perekonomian, namun pada saat-saat tertentu tampak seperti suatu akibat dari kondisi-kondisi itu. Sisi lain yang juga dapat dilihat, bahwasanya sebagian kerajaan yang sangat pesat perekonomiannya, terutama sekali bagian terbesar kota-kota dagang yang makmur pada abad keenam belas merupakan basis-basis agama Protestan.[5] Kondisi inilah yang mendorong orang-orang Protestan, bahkan sampai sekarang dalam perjuangan mereka untuk memperoleh kehidupan perekonomian yang lebih baik.
Beberapa kenyataan yang menonjol di kalangan orang-orang Katolik dan Protestan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka tidak luput dari perhatian Weber. Ia menyebutkan bahwa dalam kenyataannya, persentase orang-orang Katolik di kalangan mahasiswa dan lulusan lembaga-lembaga perguruan tinggi, proporsi mereka umumnya jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan populasi secara keseluruhan, mungkin secara luas dapat dijelaskan dari adanya perbedaan kekayaan oleh karena warisan. Namun demikian, di antara lulusan Katolik sendiri, persentase lulusan dari lembaga-lembaga kejuruan, khususnya di kalangan mahasiswa teknik dan pekerja industri serta komersial, yang dipersiapkan untuk kalangan bisnis kelas menengah jumlahnya masih jauh lebih sedikit dari pada jumlah persentase mahasiswa-mahasiswa Protestan.
Bukti lain yang lebih mencolok, demikian Weber, yakni adanya proporsi yang lebih kecil dari orang-orang Katolik di dalam industri-industri modern. Semua orang mengetahui bahwa pabrik-pabrik menerima karyawan-karyawan yang mempunyai skill dalam jumlah besar dari anak-anak muda dalam industri kerajinan, tetapi buktinya terlihat, persentase orang Protestan lebih banyak dibanding orang Katolik. Di sini orang Katolik memperlihatkan suatu kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap bekerja dalam dunia kerajinan mereka, tanpa ada keinginan keras untuk maju. Sebaliknya, orang Protestan memiliki keinginan yang kuat dan tertarik untuk terus meningkat dan berkembang sehingga sasaran mereka adalah bagian-bagian terpenting dari perusahaan-perusahaan modern.[6] Penjelasan yang dapat diberikan dari kasus-kasus seperti ini secara pasti adalah adanya keunikan atau kekhasan mental dan spiritual yang diperoleh dari lingkungan, yakni jenis pendidikan yang diwarnai oleh lingkungan keagamaan dari masyarakat dan orang tua.
Dalam analisis yang belum mendalam dan berdasarkan kesan-kesan akhir-akhir ini, demikian Weber, seseorang mungkin tergoda untuk mengungkapkan perbedaan dalam dua agama besar di atas, Katolik dan Protestan, dengan mengatakan bahwa hal-hal keduniawian yang lebih besar dari Kekatolikan, karakter asketis tentang cita-cita paling agung, pasti telah membangkitkan para penganutnya menuju pengabaian yang lebih besar ke arah segala sesuatu yang lebih baik di dunia. Dari sisi Protestan, hal ini digunakan sebagai dasar kritikan terhadap cita-cita asketis dari pandangan hidup orang-orang Katolik. Sementara orang-orang Katolik menjawab dengan menuduh bahwa materialisme disebabkan oleh sekularisasi seluruh cita-cita melalui Protestantisme.[7]
  1. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme
Weber mengamati bahwa agama Kristen memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Ia berpendapat bahwa meskipun orang Kristen memiliki tujuan tertinggi di dunia lain, namun di dunia ini, termasuk aspek-aspek material yang ada padanya dinilai secara positif sebagai tempat untuk melakukan usaha-usaha yang aktif. Ia  sendiri menemukan sikap terhadap dunia material tersebut teramat kuat di kalangan orang-orang Kristen Protestan.[8]
Menurut Weber, sikap seperti itu erat hubungannya dengan salah satu konsep yang berkembang di kalangan Protestan yakni konsep Beruf (Jerman), atau mungkin lebih jelas dalam bahasa Inggris sering disebut Calling (panggilan). Bagi dia, konsepsi tentang ”panggilan” merupakan konsep agama, yang baru muncul semasa reformasi. Istilah ini tidak ditemukan sebelumnya dalam lingkungan orang Katolik atau zaman purba, melainkan hanya ditemukan di lingkungan Protestan. Lutherlah yang mengembangkan konsep ini pada dekade pertama dari aktivitasnya sebagai seorang Reformator.
Lebih jauh, Weber menjelaskan bahwa arti penting dari konsep panggilan dalam agama Protestan adalah untuk membuat urusan-urusan biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama. ‘Panggilan’ bagi seseorang adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhan, dengan cara perilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya. ‘Panggilan’ merupakan suatu cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dengan memenuhi kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya sesuai dengan kedudukannya di dunia. ‘Panggilan’ adalah konsepsi agama tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas di mana seseorang harus bekerja.[9]
Namun demikian, bagi Weber, panggilan sebagaimana dipahami oleh Luther masih tradisionalistis. Hal ini terutama berdasarkan penekanannya yang kuat terhadap unsur nasib di mana seseorang tetap berada pada tempatnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan.[10] Dengan demikian, maka tidak mungkin bagi Luther untuk mengembangkan hubungan yang fundamental antara aktivitas duniawi dengan prinsip-prinsip keagamaan. Akan tetapi, dengan konsep itu paling tidak Luther telah meletakkan dasar yang kuat bagi pengembangan konsep tersebut selanjutnya.
Ajaran Luther mengenai panggilan selanjutnya diteruskan oleh Calvin, meski tidak sama persis. Bagi Calvin, dunia ada untuk melayani kemuliaan Tuhan dan hanya ada untuk tujuan itu semata. Orang-orang Kristen terpilih di dunia hanya dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan dengan mematuhi firman-firman-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing pribadi manusia. Akan tetapi, Tuhan menghendaki adanya pencapaian sosial dari orang-orang Kristen sebab Tuhan menghendaki bahwa kehidupan sosial dari orang-orang Kristen semacam itu harus dikelola menurut firman-Nya.[11] Aktivitas sosial dari orang-orang Kristen di dunia ini adalah in majorem gloriam Dei (semua demi kemuliaan Tuhan). Ciri ini kemudian dilakukan dalam kerja dalam suatu panggilan hidup yang dapat melayani kehidupan duniawi dari masyarakatnya.
Weber menyatakan bahwa berbeda dengan orang-orang Katolik yang melihat kerja sebagai suatu keharusan demi kelangsungan hidup, maka Calvinisme—khususnya sekte-sekte Puritan—telah melihat kerja sebagai panggilan. Kerja tidak sekedar pemenuhan keperluan tetapi sebagai tugas suci. Penyucian kerja berarti mengingkari sikap hidup keagamaan yang melarikan diri dari dunia.[12]
Weber mencoba memberi perhatian pada salah satu ajaran Calvinis yang memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi para pengikutnya, yaitu ajaran mengenai predestinasi. Lewat ajaran predestinasi dikatakan bahwa Allah menerima sebagian orang sehingga mereka dapat mengharapkan kehidupan, dan memberikan hukuman kepada yang lain untuk menjalani kebinasaan. Calvin sendiri berpendapat bahwa hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa yang dimaksudkan sebagai dasar predestinasi adalah ‘Allah tahu segala hal dari sebelumnya.’ Dengan kata lain, apabila kita menganggap bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum waktunya, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa segala hal itu sudah sejak kekal dan sampai kekal berada di hadapan Allah. Sebelum penciptaan, manusia sebenarnya sudah ditentukan untuk diselamatkan atau dihukum. Sejak semula, demikian Calvin, semua orang tidak diciptakan dalam keadaan yang sama. Oleh karena itu, kita harus mengatakan bahwa dasar predestinasi  bukanlah pada pekerjaan manusia. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang mampu mengubah keadaan tersebut, dan tidak ada yang bisa menolong seseorang yang sudah ditentukan bahwa ia akan dihukum setelah kematiannya sebab predestinasi adalah keputusan Allah yang kekal dalam dirinya sendiri, tidak memperhitungkan sesuatu yang berada di luar.
Weber berargumentasi bahwa akibat dari ajaran tentang predestinasi bagi para pemeluk Calvinis adalah adanya suatu kesepian di dalam hati mereka.[13] Artinya, mereka harus berhadapan dengan nasibnya sendiri yang telah diputuskan Tuhan sejak awal penciptaan. Mereka harus berhadapan dengan takdirnya secara pribadi dan tidak dapat memilih seseorang yang dapat memahami secara bersamaan firman Tuhan, terkecuali hatinya sendiri. Dalam persoalan yang menentukan ini, setiap orang harus berjalan sendirian saja, tidak seorang pun dapat menolong dirinya, termasuk kaum agamawan. Tidak pula sakramen, karena sakramen bukanlah sarana untuk memperoleh rahmat. Bukan pula Gereja, sebab bagaimanapun, keanggotaan Gereja abadi mencakup mereka yang terkutuk. Akhirnya, bahkan Allah pun tidak bisa membantu.  
Kalau demikian, bagi para pemeluk Calvinis, usaha untuk mencari identitas dirinya yang pasti masih merupakan misteri yang belum terungkapkan. Sementara itu, ia tetap terikat dengan berbagai aktivitas penghidupan dunia. Para pemeluk Calvinis sadar bahwa adanya dunia adalah diciptakan untuk melakukan pemujaan terhadap Tuhan, sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri. Begitu pula terpilihnya orang-orang Kristen di dunia adalah untuk meningkatkan pemujaannya terhadap Tuhan. Ini berarti bahwa orang Kristen harus mengikuti perintah-perintah-Nya sesuai dengan kemampuannya yang paling baik. Tuhan sendiri mengajarkan agar kehidupan sosial ini diatur sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Aktivitas sosial yang dilakukannya semata-mata diperuntukkan bagi kemuliaan Tuhan. Namun demikian, hal yang paling penting dari aktivitas-aktivitas itu dilakukan dengan dasar ’kerja dalam panggilan’ untuk melayani kehidupan masyarakat dunia.
Implikasinya adalah, pertama, setiap orang mempunyai suatu kewajiban untuk menganggap dirinya sebagai orang terpilih. Ia harus menghilangkan semua sifat keragu-raguan karena perasaan dosa. Bagi Calvin, adanya rasa kurang percaya kepada diri sendiri merupakan akibat dari keyakinan yang kurang sepenuhnya. Adanya sifat keragu-raguan terhadap kepastian pemilihan adalah bukti adanya keyakinan yang tidak sempurna. Kedua, kegiatan duniawi yang sangat intens merupakan sarana yang paling baik dan sesuai untuk mengembangkan dan mempertahankan pemilihan. Weber berpendapat bahwa karena kecenderungannya tersebut, maka dapatlah dimengerti mengapa orang-orang Calvinis dalam menghadapi panggilannya di dunia memperlihatkan sikap hidup yang optimis, positif, dan aktif.[14]
 
Kesimpulan
Melalui tesis yang dikemukakannya mengenai apa yang disebutnya ”Etika Protestan” dan hubungannya dengan ”Semangat Kapitalisme,” Max Weber mau mencari hubungan antara penghayatan agama dengan pola-pola perilaku, termasuk ekonomi. Usaha tersebut dilatarbelakangi oleh pengalamannya sendiri ketika ia memperhatikan kenyataan yang terjadi  di Eropa bahwa orang-orang yang memiliki posisi penting dalam beberapa bidang pekerjaan, sebagian besar adalah orang-orang yang menganut agama Kristen Protestan. Bagi Weber, kenyataan seperti itu tentu bukan suatu kebetulan belaka. Ia berusaha mencari faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pada awal pencariannya, Weber memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara orang Katolik dan orang Protestan dalam hal sikap terhadap pekerjaan. Menurutnya, orang Katolik mempunyai suatu kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap bekerja dalam dunia kerajinan mereka, tanpa ada keinginan keras untuk maju. Sebaliknya, orang Protestan memiliki keinginan yang kuat dan tertarik untuk terus meningkat dan berkembang sehingga sasaran mereka adalah bagian-bagian terpenting dari perusahaan-perusahaan modern.
Lebih jauh, Weber memusatkan usaha pencariannya pada kalangan Protestan. Ia mengamati bahwa agama Kristen Protestan memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Sikap seperti itu, demikian Weber, erat hubungannya dengan salah satu konsep yang berkembang di kalangan Protestan yakni konsep panggilan.’ Bagi dia, konsepsi tentang ‘panggilan’ merupakan konsep agama tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas di mana seseorang harus bekerja. Ajaran mengenai panggilan ini mula-mula dicetuskan oleh Luther, namun selanjutnya diteruskan oleh Calvin, meski tidak sama persis.
Calvin mengajarkan bahwa aktivitas sosial dari orang-orang Kristen di dunia ini bertujuan untuk memuliakan Tuhan dengan mematuhi firman-firman-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing pribadi manusia. Dengan demikian, bagi penganut Calvinis, kerja dilihat sebagai suatu panggilan. Kerja tidak sekedar pemenuhan keperluan tetapi sebagai tugas suci. Selanjutnya, lewat ajaran mengenai predestinasi Calvin mengajarkan bahwa setiap orang harus berhadapan dengan takdirnya secara pribadi sebab tidak ada orang lain atau hal lain yang bisa membantunya, termasuk Tuhan. Di sinilah Weber melihat bahwa karena kecenderungannya tersebut, maka dapatlah dimengerti mengapa orang-orang Calvinis dalam menghadapi panggilannya di dunia ini memperlihatkan sikap hidup yang optimis, positif, dan aktif. 

Daftar Pustaka
Andreski, Stanislav. 1989. Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi, dan Agama, diterjemahkan oleh Hartono. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sudrajat, Ajat. 1994. Etika Protestan dan Kapitalisme Barat, Relevansinya dengan Islam Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Weber, Max. 2000. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, diterjemahkan oleh Yusup Priyasudiarja. Surabaya: Pustaka Promethea.






[1] Tesis tersebut merupakan karyanya yang terbit pada tahun 1905 di Jerman, dengan bahasa asli Jerman. Kemudian naskah asli tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris.
[2] Bdk. Stanislav Andreski, Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi, dan Agama, diterjemahkan oleh Hartono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), hlm. 3.
[3] Bdk. Ajat Sudrajat, Etika Protestan dan Kapitalisme Barat, Relevansinya dengan Islam Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 1.
[4] Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, diterjemahkan oleh Yusup Priyasudiarja, (Surabaya: Pustaka Promethea, 2000), hlm. 55-56.
[5] Ajat Sudrajat, op.cit., hlm. 18.
[6] Ibid., hlm. 19.
[7] Max Weber, op.cit., hlm. 63.
[8] Ajat Sudrajat, op.cit., hlm. 41.  
[9] Ibid., hlm. 42.
[10] Ibid.
[11] Max Weber, op.cit., hlm. 158-159.
[12] Ajat Sudrajat, op.cit., hlm. 43.
[13] Ibid., hlm. 58.
[14] Ibid., hlm. 63-64.

1 komentar:

  1. cm mau koreksi aja... beruf tu artinya pekerjaan, profesi. bukan panggilan. selebihnya dah bagus banget

    BalasHapus

Pembaca dapat menuliskan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar akan dihapus jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

KOMENTAR ANDA

HUBUNGI ADMIN

Telepon Seluler: 0906 314 4441
PIN BBM: 2a19e65c
Skype: jufri.kano
Twitter: jufri_kano
Yahoo! Messenger: jufri_kano@ymail.com
Facebook: http://facebook.com/jufri.kano

PENGUNJUNG

TOPIK PILIHAN

BERITA POPULAR